P H
May 02, 2016 12:13:21
Bisnis Indonesia memberitakan Meski sebagian masih di bawah konsensus, kinerja emiten berkapitalisasi pasar raksasa atau big cap sebagai lokomotif lantai bursa mulai melaju pada kuartal I/2016.
emiten rokok PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) menjadi jawara dengan pertumbuhan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk mencapai 32,09% (year-on-year/yoy) senilai Rp1,69 triliun.
Sebaliknya, raksasa otomotif PT Astra International Tbk. (ASII) harus terpuruk dengan koreksi taba 22,04% menjadi Rp3.11 triliun ditemani oleh PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), yang labanya juga turun 1,36% menjadi Rp1,57 triliun. (Lihat tabel)
 
Kinerja GGRM juga mengejutkan lantaran lebih tinggi 36,56% dari proyeksi konsensus yang dirangkum Bloomberg. Sementara itu, kinerja ASII awal tahun ini justru lebih rendah 24,23% dari proyeksi konsensus.
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, hanya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang belum merilis kineria keuangan kuartal I/2106 dari 10 emiten big cap.
 
Analys KDB Daewoo Securities Indonesia Heldy Arifien mengatakan pertumbuhan kinerja emiten berkapitalisasi pasar raksasa itu bisa menjadi penggerak indeks harga saham gabungan (IHSG). Ini terutama dari saham sektor barang-barang konsumsi seperti PT Unilever Tbk. (UNVR). PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk, (HMSP), dan PT Gudang Garam Tbk, (GGRM) yang dalam beberapa pekan ini menjadi penggerak indeks.
"Sektor perbankan yang menjadi bobot 30% terhadap IHSG masih tertahan karena adanya sentimen negatif terkait pemangkasan margin. Beberapa kinerja emiten big cap akan menjadi mothers minimal sampai kuartal I/2016
 
Dia menilai, dari katalis yang ada, termasuk kinerja emiten kuartal I/2016, dapat mendorong pertumbuhan ekonomi ke area positif. Bila pertumbuhan ekonomi membaik, dia optimistis IHSG bakal menembus level 5.000 pada paruh pertama tahun ini.
Apalagi, transaksi perdagangan di lantai bursa juga diprediksi meningkat seiring dengan rencana diberlakukannya fraksi harga yang baru dengan lima kelompok harga
 
Kendati demikian, tembusnya level psikologis 5,000 bakal bergantung pada kepastian rencana pemerintah untuk memangkas margin bunga bersih pada sektor perbankan, Bila rencana itu batal diimplementasikan, IHSG dipastikan berjalan mulus menembus level 5.000.
Menurutnya, sektor yang diproyeksi akan moncer pada tahun ini adalah properti dan consumer goods. Adanya pemangkasan suku bunga acuan (BI Rate) dan implementasi pengampunan pajak (tax amnesty) dipastikan akan melonggarkan likuiditas.
Pertumbuhan likuiditas itu, katanya, akan mendorong meningkatnya daya beli masyarakat. Sisi lainnya, dana masuk dari pengampunan pajak juga diperkirakan menggerakkan kinerja emiten infrastruktur

$GGRM $ASII $BMRI $HMSP $UNVR
hide
Handle
N/A
Handle