P H
Sep 18, 2017 09:09:37

Pasca Divestasi WTR dan Jalan Tol Tidak Tercapai

1H 2017 Result Review
Pendapatan PT. Waskita Karya Tbk. (WSKT) per semester I 2017 tumbuh 92,3% YoY menjadi Rp 15,55 triliun. Pendapatan dari bisnis konstruksi memberikan kontribusi terbesar atas total pendapatan perseroan. Pada semester I 2017 bisnis konstruksi berkontribusi sekitar 62% terhadap pendapatan perseroan. Kontribusi pendapatan dari jalan tol (toll-road) dan beton pracetak (precast) menyumbang masing-masing 26% dan 12% di semester I 2017. Kontribusi pendapatan dari konstruksi dan precast turun dibanding pada semester I 2016, karena meningkatnya kontribusi dari toll road. Meski demikian secara nominal pendapatan dari masing-masing unit bisnis itu mencatatkan kenaikan, bahkan hingga double digit. Pendapatan dari toll road naik hingga 73% YoY.

Laba usaha semester I 2017 meningkat 83,9% YoY menjadi Rp 2,44 triliun dan laba bersih (yang dapat diatribusikan ke entitas induk) naik 120,5% YoY menjadi Rp 1,28 triliun. Gross Profit Margin dan Operating Profit Margin turun di semester I 2017 tapi masih double digit. Sedang Net Profit Margin meningkat menjadi 9,2% dari 7,2%.

Pencapaian Kontrak

Hingga minggu I September 2017 WSKT telah membukukan kontrak baru senilai Rp 43 triliun. Kontrak baru proyek tersebut masih didominasi oleh proyek infrastruktur, khususnya jalan tol. Terdapat peningkatan kontrak baru sekitar Rp 15 triliun dari akhir Juli 2017 yang tercatat sebesar Rp 28 triliun. Waskita mencatatkan carry over dari tahun 2016 sekitar Rp 84 triliun. Dengan demikian hingga minggu I September 2017 Waskita Karya telah membukukan total kontrak sebesar Rp 127 triliun atau mencapai sekitar 88% dari target total kontrak tahun 2017. Waskita Karya menargetkan total kontrak (order book) sebesar Rp 144 triliun hingga akhir tahun 2017.

Saat ini Waskita Karya memiliki 5 proyek terbesar. Nilai kontrak untuk 5 proyek tersebut mencapai Rp 24,38 triliun. Perseroan masih membutuhkan dana untuk membiayai proyek-proyek perseroan. Sementara beberapa proyek Waskita Karya merupakan proyek dengan skema turnkey (turnkey project). Oleh karenanya dibutuhkan dana besar untuk menalangi pengerjaan proyek-proyek turnkey tersebut. Per Juni 2017 posisi piutang usaha perseroan mencapai sekitar Rp 3,4 triliun.

Divestasi WTR dan Jalan Tol
Waskita Karya melalui anak usahanya yaitu PT. Waskita Toll Road (WTR) awalnya berencana melakukan divestasi atas 10 ruas jalan tol. Selain itu perseroan juga menawarkan saham WTR melalui mekanisme rights issue. Kedua aksi korporasi itu bertujuan untuk memenuhi pendanaan proyek-proyek infrastruktur perseroan selanjutnya, terutama jalan tol. Hal itu untuk memperkuat WSKT sebagai developer jalan tol. Selain itu WSKT tidak ingin menguasai atau menjadi operator jalan tol dalam jangka panjang.

Namun dalam keterbukaan informasi di BEI pada 12 September 2017, manajemen menyatakan belum ada calon investor yang memenuhi target sesuai yang diharapkan oleh manajemen WTR. Dikabarkan bahwa penawaran yang masuk di bawah ekspektasi manajemen yaitu 2x PBV. Sebelumnya manajemen WSKT mensyaratkan atas divestasi itu sebagai berikut :
1. Pembangunan tetap dilakukan oleh WSKT
2. Pemilik baru harus bisa diterima oleh kreditur dari WSKT. Apabila pemilik baru tidak bisa menerima, maka pemilik baru harus membayar utang ke Bank Negara Indonesia.

Meski rencana divestasi belum sesuai rencana, WSKT dan WTR tetap berencana untuk melakukan divestasi ruas jalan tol tersebut. Skema divestasi tersebut masih dalam kajian manajemen. Waskita Karya memutuskan untuk tidak melanjutkan proses lelang 10 ruas tol dan menggantinya dengan skema negosiasi langsung one on one (satu per satu) dengan calon mitra strategis. Langkah itu ditempuh karena harga yang diajukan investor calon pembeli di bawah ekspektasi. Rencana divestasi itu dapat direalisasilan paling lambat pada semester I 2018, baik dengan skema menggandeng mitra strategis mau pun mendorong anak usaha melangsungkan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO). Perseroan memastikan akan tetap menjadi pemegang saham pengendali WTR dengan kepemilikan paling sedikit 51%.

Opsi penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) PT. Waskita Toll Road menjadi strategi terakhir apabila hasil rights issue dan divestasi tidak memuaskan. Manajemen menyatakan jika saham baru yang dikeluarkan WTR tidak ada peminat, maka perseroan akan menempuh opsi penawaran umum saham perdana (IPO). Rencana IPO tersebut baru dapat diputuskan pada semester I 2018.

Perseroan optimis akan divestasi jalan tol tersebut. Sebelumnya manajemen menyatakan bahwa nilai investasi jalan tol bisa meningkat 200%-300% dalam 2-3 tahun ke depan. Hal itu karena tidak ada land acquisition (lagi) dan jumlah mobil bertambah.

Saat ini Waskita Karya memiliki 18 ruas tol dan diperkirakan bertambah 3 ruas tol pada tahun 2017. Ruas jalan tol akan bertambah lagi pada tahun 2018, sesuai dengan kecepatan tender yang diikuti. Perseroan memperkirakan kebutuhan dana perusahaan mencapai Rp 10 triliun yang akan digunakan untuk membangun ruas tol baru.

Sumber Pendanaan Waskita Karya
Selain divestasi WTR dan jalan tol, untuk mendanai proyek-proyeknya Waskita berencana menerbitkan obligasi dengan mekanisme penawaran umum berkelanjutan (PUB) III senilai Rp 10 triliun. Tahap I akan diterbitkan sebesar Rp 3 triliun di tahun 2017. Sedang tahap II sebesar Rp 3 triliun pada semester I 2018 dan tahap III senilai Rp 2 triliun semester II 2018. Dana hasil emisi obligasi sebesar Rp 3 triliun itu akan digunakan untuk modal kerja perseroan. Sebesar 80% untuk pekerjaan konstruksi bangunan sipil, gedung serta rekayasa, pengadaan dan konstruksi (EPC) dan sebesar 20% untuk investasi di anak usaha dalam bentuk penyertaan modal. Seluruh investasi ke entitas anak dalam rangka ekspansi usaha yang diharapkan memberi kontribusi bagi kelangsungan bisnis perusahaan. Pada semester I 2017 kas dan setara kas perseroan tercatat sebesar Rp 7,5 triliun. Per Juni 2017 Waskita Karya posisi pinjaman bank perseroan sebesar Rp 5,4 triliun dan dana dari emisi obligasi Rp 6,5 triliun.

Waskita Karya pada tahun 2015 telah memperoleh pendanaan dengan mekanisme Penanaman Modal Negara (PMN) melalui rights issue. Waskita Karya memperoleh dana senilai Rp 5,3 triliun dari rights issue, yang terdiri dari Rp 3,5 triliun PMN pemerintah dan Rp 1,8 triliun dari publik. Peluang untuk memperoleh kembali pendanaan dari pemerintah rendah.

Sumber pendanaan (financing) perusahaan-perusahaan konstruksi, terutama BUMN, menjadi concern investor. Tidak terkecuali Waskita Karya. Ambisi pemerintah untuk merealisasikan program percepatan pembangunan infrastruktur terbentur pada anggaran pemerintah (APBN). Sementara BUMN karya juga menghadapi keterbatasan. Peluang pendanaan yang dimungkinkan adalah melalui penerbitan obligasi/surat utang, pinjaman bank atau skema B to B.

Prospek
Kebutuhan dana Waskita Karya untuk pembangunan jalan tol yang diperkirakan sebesar Rp 10 triliun semestinya bisa tercover oleh emisi obligasi dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) III. Emisi obligasi tahap I senilai Rp 3 triliun itu diperkirakan bisa mengatasi pendanaan untuk mencapai target operasional di tahun 2017. Dana dari emisi obligasi sisanya sebesar Rp 7 triliun dapat dialokasikan untuk pendanaan di tahun berikutnya, sementara memproses persiapan divestasi WTR dan toll road atau IPO WTR.

Selain itu perseroan masih memiliki ruang pendanaan. Per Juni 2017 Debt (bank loan) to Equity Ratio Waskita Karya sebesar 2x. Sementara DER covenant bond sekitar 3x. Namun sejauh ini perseroan bersikap prudent dengan mempertahankan DER 2x. Perseroan juga memiliki interest coverage dan likuiditas yang baik. Mengingat keterbatasan pendanaan saat ini, bisa jadi dapat membatasi target perseroan di tahun 2018. Oleh karenanya target kontrak baru di tahun 2018 diperkirakan akan lebih konservatif, dengan asumsi rencana divestasi tidak terealisasi pada tahun 2018. Dengan kondisi saat ini, maka dalam pandangan Kami perseroan akan mempertimbangkan proyek-proyek berbasis non-turnkey. Perseroan yakin bahwa tertundanya divestasi tersebut tidak akan mengganggu target operasional perusahaan di tahun 2017. Perseroan menargetkan kontrak baru sebesar Rp 60 triliun, pendapatan Rp 22 triliun dan laba bersih Rp 3,5 triliun di tahun 2017.

Valuation
Relative Valuation

Dengan pendekatan relative valuation, Kami menggunakan estimasi PE’17F konsensus sektor konstruksi sebesar 13,5x dan EPS’17F Rp 173 yang mentranslasikan harga saham WSKT Rp 2300. Valuasi ini, dibandingkan harga saham WSKT Rp 1890 (12/9/17), dapat menjadi pertimbangan investasi.

Multiple Valuation
Saat ini WSKT diperdagangkan pada PE 10,9x atau di bawah rata-rata PE 3 tahun di 16,4x.

Harga saham WSKT terkoreksi 23,79% dalam setahun ini. Namun dalam periode 3 tahun saham WSKT telah naik 52,07% dibandingkan dengan IHSG yang menguat 14,84%.

$WSKT

hide
Handle
N/A
Handle