Sign up to SahamTalk to save a watchlist for easy access to your favorite stocks
Handle
N/A
Handle
 
P H
May 23,2016 17:06:32
Periksa Kesehatan Emiten Farmasi
 
Harian Kontan memberitakan, Nilai tukar rupiah yang sedang melemah menjadi kabar buruk bagi emiten sektor farmasi. Padahal, kinerja sektor ini tengah terkerek program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dalam riset mengungkapkan, pergerakan nilai tukar rupiah berpengaruh kuat bagi kinerja sektor farmasi. Sebab 90% bahan baku industri masih impor. Sebenarnya, emiten sektor farmasi mulai berupaya mengurangi ketergantungan bahan baku impor lewat pembangunan pabrik-pabrik baru yang membikin bahan baku obat. Tapi, hasilnya diperkirakan baru tampak mulai tahun depan.

Reza Priyambada, analis NH Korindo Securities, mengungkapkan, sektor farmasi tahun ini masih berpotensi tumbuh, seiring daya beli masyarakat terhadap produk kesehatan. Permintaan obatobatan juga meningkat, seiring program BPJS, "Meski kenaikan tidak setinggi produk kesehatan," kata Reza.

Ia melihat, pengaruh nilai tukar bagi PT Indofarma Tbk (INAF) hanya sedikit, karena bahan bakunya masih banyak didominasi oleh lokal. Sedangkan KLBF baru akan terkena dampak bila nilai tukar rupiah merosot.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, mengatakan, kurs yang stabil saat ini akan menguntungkan sektor farmasi. Program BPJS juga membantu mengerek pertumbuhan penjualan, walaupun permintaan obat generik masih mendominasi.

Jika nilai tukar stabil dan ekonomi membaik, maka kinerja farmasi akan terdongkrak. Kedua hal ini bisa menyulut pertumbuhan penjualan sektor farmasi 10% dan kenaikan laba bersih bisa mencapai 12%-15%.

Prospek emiten farmasi masih menarik bila didukung oleh nilai tukar rupiah yang stabil dan peningkatan permintaan obat generik. Penjualan dari emiten pelat merah seperti PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan INAF akan terdorong oleh JKN.

Bila tender JKN tertunda, penjualan akan tertunda. "Sementara PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) sekarang berbisnis di minuman kesehatan yang membantu kinerja mereka," kata Hans.

Dang Maulida, analis Daewoo Securities, mengatakan, komposisi penjualan KLBF hampir merata, sehingga tidak ada ketergantungan penjualan dari satu sektor saja. Segmen penjualan obat resep KLBF sebesar 25%, produk kesehatan 18%, nutrisi 28%, dan terakhir distribusi dan logistik 29%. Segmen nutrisi tumbuh 5,7% ketimbang kuartal pertama tahun lalu.

$KAEF $KLBF $INAF

hide